Cinta (Lagi)

Manusia dan cinta. Cinta adalah perasaan yang benar-benar datang dalam jiwa seorang mahluk, hingga terasa seperti terikat dengan sesuatu dan tidak ingin melepaskannya.

Cinta adalah sebuah karunia, yang datangnya langsung dari Allah SWT. Sehingga dengan begini dapat dikatakan bahwa rasa cinta itu adalah rasa yang manusiawi. Rasa cinta ini diturunkan dari salah satu sifat Allah SWT yaitu Maha Pengasih dan Maha Penyanyang, dan benar, buah pun tidak jatuh jauh dari pohonnya, begitu juga mahluk, tidak akan jauh sifatnya dari Sang PenciptaNya.

Ah cinta, cinta kepada siapa ? Allah-kah ? Mahluk-kah ?
Dan sekali lagi itu merupakan perasaan manusiawi yang dianugerahkan, sekarang tinggal bagaimana cara kita menyikapi atau mengontrol rasa cinta yang diberikan. Cinta kepada mahluk ? sah-sah saja, di sisi lain, bagaimana juga rasa cinta kita kepada Allah SWT ? Apakah lebih besar kepadaNya ? Apakah setara ? atau mungkin lebih besar kepada mahluk ? inilah yang harus kita sikapi.

Bagaimana dengan tingkatan cinta yang sebenar-benarnya benar di mata Allah SWT ?
Allah SWT berfirman dalam Surat At-Taubah ayat ke 24, secara tersirat dalam firmannya : “Jika bapak2, anak2, saudara2, pasangan2, dan kaum keluarga kalian, harta kekayaan yg kalian usahakan, perniagaan yg kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah2 tempat tinggal yg kalian sukai, lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan (daripada) jihad di jalanNYa, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan siksaNya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang2 yg fasik”

Cinta yang tertinggi hanya pantas disematkan kepada Allah SWT, karena Allah-lah yang memberikan rasa ini, maka sepatutnya kita juga mencintai Allah. Bagaimana caranya ? coba lihat jika kita mencintai seorang mahluk, kita pasti akan mencari-cari informasi tentangnya, mempelajarinya, mencari tahu akan hal-hal yang ia suka, lalu mengerjakannya. Begitu juga caranya kepada Allah, kita dapat mencintainya dengan cara melaksanakan shalat pada waktunya, mencintai Rasulullah SAW, selalu mengingatNya, dan lain-lain. Dan tanpa disadari itu akan memberikan feedback yang baik terhadap hati kita, rasanya akan menjadi tenang, tentram, meski apapun yang sedang menimpa kita, kita masih tetap ingat bahwa, “tenang, Allah masih ada, dan akan selalu ada bersama kita.”

Cinta yang selanjutnya dapat kita berikan kepada pemimpin besar kita di dunia akhirat, yaitu Nabi Muhammad SAW. Bayangkan aja, di saat maut menjemput, Rasulullah masih sempat-sempatnya memikirkan kondisi umatnya, bukan istrinya, bukan anaknya, melainkan umatnya, sampai sebegitu khawatirnya Beliau kepada kita. Cara yang baik untuk kita membalasnya adalah mengingatnya, selalu memberikan shalawat kepada Beliau, keluarga, sahabat, istri-istri Beliau, di samping sebagai bentuk cinta kita kepada Rasulullah, itu juga menjadi ladang pahala bagi kita, Insya Allah dibalas dengan pertolongan Rasulullah di yaumil akhir nanti, aamiin.

Cinta yang terakhir yaitu yang paling bawah, baru kita berikan kepada sesama mahluk, kepada keluarga, teman, sahabat, istri (bagi yang sudah punya), lalu sisakanlah sedikit lagi cinta kita kepada harta-harta kita. Di zaman ini banyak yang sering tertukar, mahluk dulu Allah nanti, Allah nanti mahluk dulu, padahal sebenar-benarnya cinta ialah cinta kepada Allah SWT, cinta yang kekal dan abadi, cepat atau lambat mahluk pasti akan meninggalkan kita, namun Allah, akan selalu bersama kita, kapanpun, dan dimanapun kita berada.

terinspirasi oleh :
http://kajianmuslimah.wordpress.com/2008/02/13/cinta-dalam-pandangan-islam/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s