Otot atau Otak ?

Bela negara, dewasa ini tidak lagi mengagung-agungkan kekuatan militer yang superior, dapat membuat pihak lawan berpikir lagi untuk menyerang kita. Dan sekali lagi, tidak, zaman ini kita mulai mengenal perang dengan senjata pemikiran. Ya memang, di wilayah timur sana, perang masih bergejolak, apalagi untuk saudara kita di Palestina sana, perang fisik merupakan hal yang wajib. Tapi untuk disini, Indonesia, tidak, atau mungkin belum saatnya (lagi). Kita bisa saja membantu dengan armada-armada yang kita miliki, namun apalah artinya jika kita hanya “menyerahkan nyawa” kepada pihak lawan, kita sebaiknya berpikir matang-matang untuk tidak ikut ke dalam peperangan, setidaknya untuk urusan fisik. Apakah ada alternatif lain untuk ini ? untuk itu ? dan jawabannya pasti ada, dan jika kita menemukannya, kita tidak perlu mengorbankan putra-putra bangsa tercinta kita untuk berperang di antah-berantah sana. Janganlah menjadi seperti binatang yang terpancing jika mendapat aksi tertentu, bereaksi itu manusiawi. Tapi apakah kita harus langsung menyerang balik atau menunggu saat yang tepat untuk menyerangnya, pikirkanlah lagi.

Bela negara adalah kewajiban setiap warga negara. Bela negara bukan soal kita prajurit tentara atau bukan, seorang polisi atau bukan, tapi persoalan pada peran kita masing-masing. Sebagai tentara dan polisi tentunya melakukan bela negara secara fisik. Tetapi, bela negara kan tidak cuma dalam urusan fisik. Di zaman yang makin modern ini, bukan perang otot lagi yang digembar-gemborkan, melainkan perang pemikiran, doktrin-doktrin, dan teman-temannya yang lain lah. Kita sebagai mahasiswa sudah sepatutnya melaksanakan hal yang seharusnya kita laksanakan yaitu terus menerus menimba ilmu tak peduli di kampus atau tidak, karena ilmu tidak hanya di kampus, bahkan di jalanan saja, ilmupun ada. Kita harus mengasah kepekaan sosial kita dalam menghadapi pemikiran-pemikiran global, yang sejatinya, berbanding terbalik dengan nilai-nilai yang ada dalam pancasila. contoh : individualisme. Ya, saya tahu kita sudah menginjak mahasiswa, belajar harus benar-benar sendiri, tapi apa kita harus selalu mementingkan diri sendiri ? tentu tidak. Maka dari itu, sering-seringlah kita memfilter apa-apa yang sudah kita lakukan, agar kita cepat tersadar bilamana kita melakukan kekeliruan. Semoga Allah SWT selalu melindungi kita dari orang-orang yang dzalim, serta kita diberi kekuatan untuk memerangi mereka dengan pemikiran juga tentunya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s