Keadilan Khayalan (Part 2)

Tanggapan saya mengenai kasus di atas cukup memprihatinkan, dimana penerapan hukum di Indonesia seperti psau yg bermata dua, tajam di bawah dan tumpul di bagian atas. Menurut saya, sekecil apapun perbuatan kriminal, tetap harus mendapat hukuman, contohnya seperti kasus nenek tadi, namun alangkah baiknya jika tidak dibawa sampai ke meja hijau, dan diselesaikan secara kekeluargaan, mungkin berupa nasihat untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi, dan bukan hanya dari segi eksternal, segi internal juga baiknya diperbaiki seperti sistem pengamanan dari kebun itu sendiri, pembuatan pagar, kira-kira seperti itu.

Namun saya cukup terkejut ketika menemukan berita pada link ini http://megapolitan.kompas.com/read/2012/02/01/18300157/Dalam.Mencari.Keadilan.Tidak.Ada.Kasus.Besar.atau.Kecil

Disana dituliskan bahwa nenek ini telah melakukan pencurian berkali-kali, dan sudah dinasehati berkali-kali, dan yang lebih parah bukan cuma nenek ini yang melakukan, tapi warga sekitar juga ada. Juga yang menarik dari kasus ini adalah begitu banyak simpatisan yang mendukung nenek ini, 3 buah kakao yang dicuri harganya sekitar Rp 2000, maka mereka lantas menyuarakan, “lah, hanya 2ribu perak kok ke pengadilan”, begitu dan sebagainya. Opini di atas sangat bisa diterima jika kita melihat dari kacamata kita, namun jika kita melihat dari kacamata warga yang berada di pemukiman sana, mungkin uang sebesar Rp 2000 sangatlah berharga disana.

Dan yang lebih parah lagi, yang telah disebutkan menurut link berita yang tadi (jika benar), adalah sang nenek mencuri buah kakao tidak hanya kali ini saja, melainkan sebelumnya sudah, dan ini sebagai bentuk agar sang nenek berhenti mencuri lagi. Katakanlah jika dikira-kira, kerugian kebun berkisar hingga Rp 10.000, angka yang kecil jika kita melihat melalui ekonomi kita.

Dilain kasus, lihatlah kasus korupsi yang menyentuh angka miliaran rupiah, dan pemberitaan di media memperlihatkan ngaretnya pelaksanaan hukum pada kasus tersebut, sampai-sampai kasus tersebut tenggelam oleh kasus-kasus yang baru. Aparat hukum di Indonesia juga agak kehilangan kepercayaan dari masyarakat, bagaimana tidak, seorang jaksa bisa disuap. Aparat penegak yang harusnya menegakkan hukum setinggi-tingginya malah makin membenamkannya dengan tindakannya sendiri. Cukup miris memang, namun begitulah keadaannya.”

Saya berharap ke depannya dapat lahir generasi-generasi penegak hukum yang tak hanya berahlak baik, jujur, adil namun juga cerdik dalam melihat situasi yang ada dan dapat melaksanakan hukum dengan sebagaimana mestinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s