Keadilan Khayalan

0944509620X310

Jakarta – Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sering dihebohkan oleh tingkah laku para penegak hukum di Indonesia yang ‘terkesan’ lebih mementingkan orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan uang. Masyarakat sangat terusik dengan kejadian-kejadian yang menimpa masyarakat kecil. Palu hukum dengan mantapnya menindak mereka tanpa melihat berbagai faktor yang ada.

Sedangkan bagi koruptor mereka yang mempunyai uang dan kekuasaan palu hukum terlihat lamban menindaknya. Malah terkesan mengulur-ulur waktu untuk menghukum. Padahal di sisi lain bukti dan saksi sudah cukup jelas untuk menindak mereka. Lalu kenapa para penegak hukum lebih memilih untuk ‘diam’ daripada bertindak cepat menindaklanjuti bukti dan saksi yang sudah ada.

Nah, di sini muncul pertanyaan. Permasalahan dalam hukum yang ada di Indonesia sekarang ini apakah bersumber dari tidak memadainya sistem hukum kita ataukah bersumber dari manusia-manusianya yang kurang terdidik secara ‘moral’. Di bawah ini saya akan beropini membandingkan bagaimana cara hukum Indonesia dan hukum syariah (Islam) dalam menyelesaikan kasus yang serupa.

Kasus Nenek Minah dengan Tiga Buah Kakau

Hukum Mencuri 3 Buah Kakao dalam Hukum Indonesia. Nenek minah (55) yang berasal dari Dusun sidoarjo Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas ini harus menghadapi masalah hukum hanya karena tiga buah kakao yang nilainya hanya Rp 2,000. Kejadian ini disebabkan karena dia mengambil 3 buah kakao milik PT RSA 4, dan perbuatan ini diketahui oleh mandor. Perbuatan itu pun dilaporkan kepada polisi.

Terhitung sejak 19 Oktober 2009 kasus pencurian kakao yang membelit nenek Minah telah ditangani pihak Kejaksaan Negeri Purwokerto. Dia didakwa telah mengambil barang milik orang lain tanpa izin. Yakni memetik tiga buah kakao seberat 3 kg dari kebun milik PT Rumpun Sari Antan 4. Berapa kerugian atas pencurian itu? Rp 30,000 menurut jaksa. Atau Rp 2,000 di pasaran.

Akibat perbuatannya itu Nenek Minah dijerat pasal 362 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Dengan ancaman hukuman enam bulan penjara.

Hukum Mencuri 3 Buah Kakao dalam Hukum Islam. Dibandingkan dengan hukum Indonesia hukum Islam sangat berbeda dalam mengambil tindakan. Islam tidak serta merta menindak si pelaku pencurian, tapi melihat dulu, siapa yang mencuri (anak-anak, dewasa, orang tua, atau orang tidak waras)? Apa yang dicuri (barang berharga atau bukan)? Apakah sudah mencapai Had (batasan sang pencuri harus dihukum) ataukah belum?

Dalam hukum Islam, seseorang yang mencuri, maka hendaklah dipotong tangannya, sesuai dengan ayat yang tertera dalam Kitab Suci Al-Quran: “Pencuri lelaki dan pencuri perempuan hendaklah kamu potong tangannya sebagai balasan pekerjaan, dari siksaan daripada Allah, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Surah Al- Maidah ayat 38).

Akan tetapi, tidak semua pencuri dalam Islam dipotong tangannya. Harus mencapai had yang telah ditentukan sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai penerang dari yang masih umum-dalam Al Quran (Tabyiinul Khusus) dalam Sabda Rasulullah SAW yaitu sebagai berikut: “Tidak dipotong tangan seseorang pencuri itu kecuali seperempat dinar atau lebih daripada nilai uang mas” (Riwayat Bukhari Muslim).

Satu dinar kurang lebih sama dengan 4,5 gram emas. Jadi, seperempat dinar nilainya sekitar 1,125 gram emas. Kalau dirupiahkan menjadi 1,125 x 353,000 = 397,125 rupiah. Jadi, untuk membawa Nenek Minah ke palu pengadilan masih jauh dari pantas. Maka hukum Islam menganjurkan untuk diselesaikan secara kekeluargaan, dengan memberika takzir kepada Nenek Minah.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kasus pencurian. Ciri-ciri, pertama, memindahkan secara bersembunyi harta alih dari jangkauan atau pemilikan tuannya. Kedua, pemindahan harta itu tanpa persetujuan tuannya. Ketiga, pemindahan harta itu dengan niat untuk menghilangkan harta tadi dari jangkauan atau pemilikan tuannya.

Selanjutnya hal yang harus diperhatikan adalah, “siapa?” Ada tiga pihak yang tidak dikenakan kasus, 1. Anak-anak, 2. Orang gila, 3. Orang yang di bawah paksaan. Sedangkan untuk kasus Nenek Minah, yang mencuri jauh dari had-nya. Tidak perlu dimejahijaukan. Akan tetapi cukup dengan tkazir atau peringatan.

Kasus Korupsi

Dalam kebanyakan kasus korupsi yang ada di Indonesia sedikit dari mereka yang dihukum berat. Padahal, mereka terbukti menyalahgunakan kekuasan dan wewenang. Dengan mencuri uang rakyat yang nilainya miliaran rupiah bahkan lebih. Akan tetapi palu hukum hanya memberi hukuman yang tidak menimbulkan efek jera kepada para koruptor ini. Ironis sekali.

Sedangkan Nenek Minah (55) yang hanya mencuri 3 buah kakao yang nilainya hanya Rp 2,000 bisa dihukum 1-6 bulan. Bagaimana kalau koruptor yang korupsi miliaran rupiah, dan membuat Negara ini menjadi collapse?

Seharusnya dihukum berlipat-lipat dari hukuman Nenek Minah. Puluhan tahun atau pun penjara seumur hidup. Itulah hukum yang setimpal untuk para koruptor yang membuat negara ini hancur. Dihukumnya para pejabat yang cuma 1-5 tahun, ini tidak akan memberikan efek jera sedikit pun. Baik bagi pelaku atau pun bagi para koruptor yang sedang beraksi.

Apalagi dengan masih berkeliarannya Anggoro dan Anggodo yang terungkap dalam rekaman yang dibuka oleh MK. Akan tetapi mereka masih berkeliaran dengan bebas dan tanpa ada aksi yang berarti dari para penegak hukum. Sedih memang sedih. Masyarakat sekarang pesimis dengan para penegak hukum. Jadi kepada siapa lagi mereka harus mengadu untuk menuntut keadilan.

Maka dari itu di sini saya ingin membandingkan bagaimana jika kita memakai hukum Islam. Dalam hukum Islam koruptor yang sudah terbukti mengambil uang rakyat, yang nilainya ratusan juta, bahkan miliaran atau lebih, itu sudah jelas hukumannya. Adalah dipotong tangannya. Memang keliatan sadis. Tapi, ini akan menimbulkan efek jera kepada pelaku maupun orang lain. Mereka akan berfikir beribu-ribu kali untuk mengkorupsi uang rakyat karena hukumannya tidak tanggung-tanggung.

Akan tetapi bila dibandingkan dengan hukum yang mereka terima akhir-akhir ini, para koruptor malah semakin berani, karena mereka berfikir hanya akan dihukum beberapa tahun, Tapi, setelah itu dia bisa menikmati masa tua dengan uang miliaran rupiah hasil korupsi mereka. Akibatnya, para penguasa berlomba-lomba untuk mencuri uang rakyat, karena nanti bisa bermain mata dengan para penegak hukum.

Sumber : http://news.detik.com/read/2009/12/15/091206/1260163/471/mencari-keadilan

Tanggapan :

“tanggapan saya mengenai kasus di atas cukup memprihatinkan, dimana penerapan hukum di Indonesia seperti psau yg bermata dua, tajam di bawah dan tumpul di bagian atas. Menurut saya, sekecil apapun perbuatan kriminal, tetap harus mendapat hukuman, contohnya seperti kasus nenek tadi, namun alangkah baiknya jika tidak dibawa sampai ke meja hijau, dan diselesaikan secara kekeluargaan, mungkin berupa nasihat untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi, dan bukan hanya dari segi eksternal, segi internal juga baiknya diperbaiki seperti sistem pengamanan dari kebun itu sendiri, pembuatan pagar, kira-kira seperti itu.

Namun saya cukup terkejut ketika menemukan berita pada link ini http://megapolitan.kompas.com/read/2012/02/01/18300157/Dalam.Mencari.Keadilan.Tidak.Ada.Kasus.Besar.atau.Kecil

Disana dituliskan bahwa nenek ini telah melakukan pencurian berkali-kali, dan sudah dinasehati berkali-kali, dan yang lebih parah bukan cuma nenek ini yang melakukan, tapi warga sekitar juga ada. Juga yang menarik dari kasus ini adalah begitu banyak simpatisan yang mendukung nenek ini, 3 buah kakao yang dicuri harganya sekitar Rp 2000, maka mereka lantas menyuarakan, “lah, hanya 2ribu perak kok ke pengadilan”, begitu dan sebagainya. Opini di atas sangat bisa diterima jika kita melihat dari kacamata kita, namun jika kita melihat dari kacamata warga yang berada di pemukiman sana, mungkin uang sebesar Rp 2000 sangatlah berharga disana.

 

Dan yang lebih parah lagi, yang telah disebutkan menurut link berita yang tadi (jika benar), adalah sang nenek mencuri buah kakao tidak hanya kali ini saja, melainkan sebelumnya sudah, dan ini sebagai bentuk agar sang nenek berhenti mencuri lagi. Katakanlah jika dikira-kira, kerugian kebun berkisar hingga Rp 10.000, angka yang kecil jika kita melihat melalui ekonomi kita.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s