Diksi

—————

MATERI

—————

I. Pengertian

Pilihan kata atau diksi pada dasarnya adalah hasil dari upaya memilih kata tertentu untuk dipakai dalam kalimat, alenia, atau wacana. Pemilihan kata dapat dilakukan bila tersedia sejumlah kata yang artinya hampir sama atau bermiripan. Pemilihan kata bukanlah sekedar memilih kata yang tepat, melainkan juga memilih kata yang cocok. Cocok dalam arti sesuai dengan konteks di mana kata itu berada, dan maknanya tidak bertentangan dengan yang nilai rasa masyarakat pemakainya.

Diksi adalah ketepatan pilihan kata. Penggunaan ketepatan pilihan kata dipengaruhi oleh kemampuan pengguna bahasa yang terkait dengan kemampuan mengetahui, memahami, menguasai, dan menggunakan sejumlah kosa kata secara aktif yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat sehingga mampu mengomunikasikannya secara efektif kepada pembaca atau pendengarnya.

Dalam karangan ilmiah, diksi dipakai untuk menyatakan sebuah konsep, pembuktian, hasil pemikiran, atau solusi dari suatu masalah. Adapun fungsi diksi antara lain :

  1. Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal.
  2. Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat.
  3. Menciptakan komunikasi yang baik dan benar.
  4. Mencegah perbedaan penafsiran.
  5. Mencagah salah pemahaman.
  6. Mengefektifkan pencapaian target komunikasi.

II. Syarat-syarat Ketepatan Diksi

Ketepatan adalah kemampuan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara, maka setiap penulis atau pembicara harus berusaha secermat mungkin memilih kata-katanya untuk mencapai maksud tersebut. Ketepatan tidak akan menimbulkan salah paham.

Selain pilihan kata yang tepat, efektivitas komunikasi menuntut pesyaratan yang harus di penuhi oleh pengguna bahasa, yaitu kemampuan memilih kata yang sesuai dengan tuntutan komunikasi.

Adapun syarat-syarat ketepatan pilihan kata adalah :

  • Membedakan secara cermat denotasi dan konotasi.

Denotasi ialah kata yang bermakna lugas atau tidak bermakna ganda. Sedangkan konotasi ialah kata yang dapat menimbulkan bermacam-macam makna.

Contoh :

  • Bunga eldeweis hanya tumbuh ditempat yang tinggi. (Denotasi)
  • Sinta adalah bunga desa di kampungnya. (Konotasi)
  • Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim.
  • Siapa pengubah peraturan yang memberatkan pengusaha?
  • Pembebasan bea masuk untuk jenis barang tertentu adalah peubah peraturan yang selama ini memberatkan pengusaha.
  • Membedakan kata-kata yang mirip ejaannya.
  • Intensif – insensif
  • Karton – kartun
  • Korporasi – koperasi
  • Tidak menafsirkan makna kata secara subjektif berdasarkan pendapat sendiri, jika pemahaman belum dapat dipastikan.

Contoh :

  • Modern : canggih (secara subjektif)
  • Modern : terbaru atau muktahir (menurut kamus)
  • Canggih : banyak cakap, suka menggangu, banyak mengetahui, bergaya intelektual (menurut kamus)
  • Waspada terhadap penggunaan imbuhan asing.

Contoh :

  • Dilegalisir seharusnya dilegalisasi.
  • Koordinir seharusnya koordinasi.
  • Membedakan pemakaian kata penghubung yang berpasangan secara tepat.

Contoh :

tabel

  • Membedakan kata umum dan kata khusus secara cermat.

Kata umum adalah sebuah kata yang mengacu kepada suatu hal atau kelompok yang luas bidang lingkupnya. Sedangkan kata khusus adalah kata yang mengacu kepada pengarahan-pengarahan yang khusus dan kongkret.

Contoh :

  • Kata Umum : Melihat
  • Kata khusus  :    melotot, membelak, melirik, mengintai, mengamati, mengawasi, menonton, memandang, menatap.
  • Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal.

Contoh :

  • Isu (berasal dari bahasa Inggris “issue”) berarti publikasi, perkara.
  • Isu (dalam bahasa Indonesia) berarti kabar yang tidak jelas asal-usulnya, kabar angin, desas-desus.
  • Menggunakan dengan cermat kata bersinonim, berhomofoni, dan berhomografi.

Sinonim adalah kata-kata yang memiliki arti sama.

Homofoni adalah kata yang mempunyai pengertian sama bunyi, berbeda tulisan, dan berbeda makna.

Homografi adalah kata yang memiliki kesamaan tulisan, berbeda bunyi, dan berbeda makna.

Contoh :

  • Sinonim : Hamil (manusia) – Bunting (hewan)
  • Homofoni : Bank (tempat menyimpan uang) – Bang (panggilan kakak laki-laki)
  • Homografi : Apel (buah) – Apel (upacara)
  • Menggunakan kata abstrak dan kata konkret secara cermat.

Kata abstrak mempunyai referensi berupa konsep, sedangkan kata konkret mempunyai referensi objek yang diamati.

Contoh :

  • Kata abstrak : Kebaikkan seseorang kepada orang lain merupakan sifat terpuji.
  • Kata konkret : APBN RI mengalami kenaikkan lima belas persen.

III. Gaya Bahasa

Gaya bahasa atau langgam bahasa dan sering juga disebut majas adalah cara penutur mengungkapkan maksudnya. Banyak cara yang dapat dipakai untuk mengungkapkan maksud. Ada cara yang memakai perlambang (majas metafora, personifikasi) ada cara yang menekankan kehalusan (majas eufemisme, litotes) dam masih banyak lagi majas yang lainnya. Semua itu pada prinsipnya merupakan corak seni berbahasa untuk menimbulkan kesan tertentu bagi mitra komunikasi kita (pembaca/pendengar).

Sebelum menampilkan gaya tertentu ada enam faktor yang mempengaruhi tampilan bahasa seorang komunikator dalam berkomunikasi dengan mitranya, yaitu :

  1. Cara dan media komunikasi : lisan atau tulisan, langsung atau tidak langsung, media cetak atau media elektronik.
  2. Bidang ilmu : filsafat, sastra, hukum, teknik, kedokteran, dll.
  3. Situasi : resmi, tidak resmi, setangah resmi.
  4. Ruang atau konteks : seminar, kuliah, ceramah, pidato.
  5. Khalayak : dibedakan berdasarkan umur (anak-anak, remaja, dewasa, orang tua); jenis kelamin (laki-laki, perempuan); tingkat pendidikan dan status sosial (rendah, menengah, tinggi).
  6. Tujuan : membangkitkan emosi, diplomasi, humor, informasi.

Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling tepat dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam masyarakat. Dengan kata lain, gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi-situasi tertentu.

Dalam bahasa standar (bahasa baku) dapatlah dibedakan menjadi :

1. Gaya Bahasa Resmi

Gaya bahasa resmi adalah gaya bahasa dalam bentuknya yang lengkap, gaya yang dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh mereka yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara. Gaya bahasa resmi biasa kita jumpai dalam penyampaian amanat kepresidenan, berita negara, khotbah-khotbah mimbar, tajuk rencana, pidato-pidato yang penting, artikel-artikel yang serius atau esai yang memuat subyej-subyek yang penting, semuanya dibawakan dengan gaya bahasa resmi.

Contoh dalam pembukaan UUD 1945,

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ini ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagai dengan seelamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. …

Gaya bahasa tak resmi juga merupakan gaya bahasa yang dipergunakan dalam bahasa standar, khususnya dalam kesempatan-kesempatan yang tidak formal atau kurang formal. Gaya bahasa ini biasanya dipergunakan dalam karya-karya tulis, buku-buku pegangan, artikel-artikel mingguan atau bulanan yang baik, dalam perkuliahan, dan sebagainya. Singkatnya gaya bahasa tak resmi adalah gaya bahasa yang umum dan normal bagi kaum terpelajar.

Contoh :

Sumpah pemuda yang dicetuskan pada tanggal 28 Oktober 1928 adalah peristiwa nasional, yang mengandung benih nasionalisme. Sumpah Pemuda dicetuskan pada zaman penjajahan. Nasionalisme pada zaman penjajahan mempunyai watak khusus yakni anti penjajahan. Peringatan kepad Sumpah Pemuda sewajarnya berupa usaha merealisasikan gagasan-gagasan Sumpah Pemuda.

2. Gaya Bahasa Percakapan

Dalam gaya bahasa percakapan, pilihan katanya adalah kata-kata populer dan kata-kata percakapan. Kalau dibandingkan dengan gaya bahasa resmi dan tak resmi, maka gaya bahasa percakapan ini dapat diumpamakan sebagai bahasa dalam pakaian sport. Itu berarti bahasanya masih lengkap untuk suatu kesempatan, dan masih dibentuk menurut kebiasaan-kebiasaan, tetapi kebiasaan ini agak longgar bila dibandingkan dengan kebiasaan pada gaya bahasa resmi dan tak resmi.

Contoh :

Pertanyaan yang pertama, di sini memang sengaja saya tidak membedakan antara istilah jenis kata atau word classes atau parts of speech. Jadi ketiganya saya artikan sama di sini. Maksud saya ialah kelas-kelas kata, jadi penggolongan kata, dan hal itu tergantung kepada dari mana kita melihat dan dasar apa yang kita pakai untuk menggolongkannya. …….

IV. Idiom

Menurut Moeliono, Idiom adalah ungkapan bahasa yang artinya tidak secara langsung dapat dijabarkan dari unsur-unsurnya. Sedangkan menurut Badudu, idiom adalah bahasa yang teradatkan. Oleh karena itu, setiap kata yang membentuk idiom berarti di dalamnya sudah ada kesatuan bentuk dan makna.

Walaupun dengan prinsip ekonomi bahasa, salah satu unsurnya tidak boleh dihilangkan. Setiap idiom sudah tepatri sedemikian rupa sehingga para pemakai bahasa mau tidak mau harus tunduk pada aturan pemakaiannya. Sebagian besar idiom yang berupa kelompok kata, misalnya gulung tikar, adu domba, muka tembok tidak boleh dipertukarkan susunannya menjadi *tikar gulung, *domba adu, *tembok muka karena ketiga kelompok kata yang terakhir itu bukan idiom.

 

————-

CONTOH

————-

Hujan tiba, banjir pun menjelang di Ibukota. Dari tahun ke tahun, Jakarta tak pernah bisa bebas dari genangan. Meski hujan tak turun, namun air kiriman dari Bogor, Jawa Barat membuat Ibukota ikut kebanjiran.

Seperti yang terjadi Kamis pagi 20 November 2014. Air setinggi 5 meter menggenangi permukiman penduduk di Kampung Pulo, Jakarta Timur. Banjir bahkan meluap hingga ke Jalan Jatinegara Barat.

Akibatnya sudah pasti, lalu lintas sekitarnya macet total. Tak cuma Jalan Jatinegara Barat, banjir juga mengganggu lalu lintas di Jalan Abdullah Syafei, Gudang Peluru, Jakarta Selatan.

Biasanya titik yang menjadi langganan banjir terletak dekat dengan aliran sungai-sungai besar, seperti Kali Ciliwung dan Kali Angke. Berikut beberapa titik jalan langganan banjir Ibukota :

1. Jalan Jatinegara Barat

Banjir di kawasan Kampung Pulo, Jakarta Timur pasti berimbas pada Jalan Jatinegara Barat. Meningkatnya muka air di Sungai Ciliwung kerap kali meluap hingga ke sisi jalan itu.

Pada Februari 2014 lalu, saat banjir di Kampung Pulo mencapai 50 cm, Jalan Jatinegara Barat tergenang hingga ketinggian 30 cm. Banjir menggenang hingga sepanjang 20 meter. Dan antrean kendaraan mencapai 200 meter.

Sementara Kamis 20 November 2014 kemarin, ketika banjir Kampung Pulo mencapai 5 meter, ketinggian air di Jalan Jatinegara Barat mencapai 5-15 cm. Kemacetan total pun tak dapat dihindari.

2. Jalan Abdullah Syafei

Cuaca cerah tak menjamin Jalan Abdullah Syafei di Gudang Peluru, Tebet, Jakarta Selatan, bebas banjir. Di kala terik, sisi jalan dari Arah Tebet menuju Duren Sawit direndam air dengan ketinggian 30 cm atau sebetis orang dewasa.

Seperti yang terjadi pada Kamis, 20 November 2014 kemarin. Tak sedikit pengendara sepeda motor yang nekat menerobos genangan harus mendorong motornya karena mati terendam air. Arus lalu lintas di kedua arah pun macet.

Jalan ini juga diterjang banjir pada awal 2014 lalu. 24 Januari 2014, ketinggian air di jalan itu mencapai 40-50 cm. Meski ketinggian air di jalan itu terbilang cukup tinggi.

Namun para pengendara baik sepeda motor ataupun mobil masih nekat melewati jalan tersebut. Macet pun tak dapat dihindari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s