Penalaran Deduktif [TUGAS]

Dalam praktek penulisan, prosesnya tidak dapat dipisahkan dari proses pemikiran/penalaran. Tulisan adalah hasil dari pemikiran/penalaran.

Penalaran deduktif berpijak pada sebuah kesimpulan yang bersifat umum untuk kemudian diterapkan pada gejala empiris sejenis sehingga diperoleh kesimpulan sama.

Penulisan dengan memakai cara berpikir deduksi dimulai dengan suatu premis yaitu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Suatu tulisan yang bersifat deduktif dibuka dengan suatu pernyataan/umum berupa kaidah, peraturan, teori, atau pernyataan umum lainnya. Selanjutnya pernyataan itu akan dikembangkan dengan pernyataan-pernyataan atau rincian-rincian yang bersifat khusus.

Di dalam penulisannya, proses deduktif diwujudkan dalam suatu tulisan berupa paragraf. Pada suatu paragraf, pernyataan umum membentuk kalimat utama yang mengandung gagasan utama yang dikembangkan dalam paragraf itu. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa pada paragraf deduktif, kalimat utama berada pada awal paragraf.

Berikut ini contoh paragraf deduktif :

Tenaga kerja yang diperlukan dalam persaingan bebas tenaga kerja (AFLA) adalah tenaga kerja yang mempunyai etos kerja tinggi, yaitu tenaga yang pandai, terampil, dan berkepribadian. Tenaga kerja yang pandai adalah tenaga kerja yang mempunyai kemampuan akademis memadai sesuai dengan disiplin ilmu tertentu. Terampil artinya mampu menerapkan kemampuan akademis yang dimiliki disertai kemampuan pendukung yang sesuai untuk diterapkan agar diperoleh hasil maksimal. Sementara itu, tenaga kerja yang berkepribadian adalah tenaga kerja yang memiliki sikap loyal, disiplin, dan jujur.”

Pada contoh di atas merupakan pola rincian. Seperti bersama kita lihat, kalimat pertama mengandung kata yang selanjutnya akan dirincikan pada kalimat selanjutnya. Kata pandai, terampil, dan berkepribadian yang hanya disebutkan pada kalimat pertama kemudian dijelaskan pada kalimat setelahnya secara mendetil.

Berikut ini contoh lain paragraf deduktif :

Keterampilan atau keahlian seseorang tidak hanya ditentukan oleh bakat, tetapi juga ditentukan oleh lingkungan yang membentuknya. Kemampuan awal akan terbentuk menjadi keterampilan yang baik apabila didukung oleh lingkungan kondusif. Sebaliknya, kemampuan awal yang tidak dikembangkan akan sia-sia dan akhirnya menghilang. Misalnya Sutardji Calzoum Bachri menjadi penyair terkenal karena belajar kepada Ibrahim Sattah. Chairil banyak belajar kepada Sutardji. Begitu juga dengan Emha yang menjadi sastrawan terkenal karena belajar bersama teman seangkatannya.”

Pada contoh ini, pengkhususan kalimat yang dipakai adalah dengan menggunakan pola rincian dan pola contoh. Terlihat bahwa kata “lingkungan kondusif” pada kalimat kedua adalah perpanjangan dari kata “lingkungan yang membentuknya” pada kalimat pertama. Sedangkan pola contoh terlihat pada baris bagian akhir yang dimulai dengan kata kunci “misalnya”.

 

Referensi :

Sutarni, Sri S.Pd., Drs. Sukardi M.Pd., 2008, Bahasa Indonesia 2 SMA Kelas XI & Bahasa Indonesia 3 SMA Kelas XII, Penerbit Quadra.

Wahyu, Tri, 2006, Bahasa Indonesia, Penerbit Gunadarma, Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s